Karmadi, Anggota Dewan ‘Botol’ Mencari Sansasi


    Mukomuko, BENGKULU – Kalau manusia itu ‘botol’ (bodoh dan tolol) pasti tidak akan mengerti dengan tugas dan pekerjaan pokoknya, seperti tingkah dan perbuatan Karmadi salah seorang anggota Dewan dari partai PAN sibuk di lokasi pekerjaan rehab Jembatan Gantung Desa Pondok Lunang pada hari Sabtu, 22 Januari 2011.

    Karmadi diwaktu itu mau ke kebun miliknya yang ada diseberang Sungai Air Dikit, dia melewati Jembatan Gantung yang sedang direhab oleh Basrul Chaniago. Karmadi bertanya kepada Basrul yang sedang bekerja selaku Perpanjangan tangan Af yang diminta bantuan Basrul untuk merehab jembatan Gantung Desa Pondok Lunang secara lisan dengan ketentuan pekerjaan tersebut seperti Besi Jembatan itu semuanya harus di cat dan ganti papan lantai jembatan yang rusak dengan jenis kayu apa saja yang penting ketebalan kayu harus sama dengan kayu yang lama seperti besi siku jembatan yang copot harus dilas dan kembali seperti semula.

    Menanggapi pertanyaan dari Karmadi, Basrul menjawab dengan santai bahwa untuk pekerjan rehab jembatan gantung ini hampir selesai. Karmadi membantah bahwa jembatan ini tidak bisa dan tidak layak untuk diterima karena dana untuk jembatan itu ada anggarannya, dan papan jembatan ini harus diganti baru semuanya dengan jenis kayu terenbesi bukan dari jenis kayu asal jadi.

    Karmadi di ajak hering oleh Basrul untuk menanyakan kebenaran tentang dana jembatan itu karena selama Basrul mengerjakan rehab jembatan gantung itu dananya selalu Senin-Kamis. Namun Karmadi dikala itu terburu-buru mau kekebunnya, tidak barselang lama Basrul juga pergi ke Mukomuko ada kepentingan mendadak.

    Saat Basrul tidak berada di lokasi proyek Jembatan tersebut, Karmadi mampir lagi dan melarang para pekerja untuk meneruskan pekerjaannya, sehingga pada hari itu para tukang yang sedang bekerja langsung pulang ke rumah masing-masing karena pekerjaan rehab jembatan itu di stop oleh Karmadi.
Dengan sikap arogan seorang anggota Dewan seperti Karmadi ini sudah nampak tidak menguasai dan tidak mengerti dengan etika seorang Dewan. Seharusnya Karmadi di waktu memberhentikan tukang bekerja statusnya diwaktu itu selaku apa? Kalau selaku Dewan dia harus melalui prosedur dewan yang jelas dan Karmadi harus ada membawa surat tugas dari ketua fraksi pembangunan untuk memantau setiap proyek yang ada di Kabupaten Mukomuko.

    Seharusnya kalau Karmadi orangnya pintar dan dia bertindak secara professional kalau ada temuan proyek yang bersipat menyimpang dari ketentuan yang ada didalam RAB dia harus lapor kepada ketua fraksi pembangunan yang telah terbentuk di Dewan Kabupaten Mukomuko.

    Inilah kebanyakan tipe dewan yang bercongkol di kantor Dewan Kabupaten Mukomuko, sangat disayangkan masyarakat Mukomuko ‘awak bodoh berlagak pintar awak pesong belagak cerdik’. Akhirnya karena tindakan dari para oknum dewan yang sangat brutal itu bisa merusak citra dewan di mata masyarakat.

    Tokoh masyarakat Desa Air Dikit menyesalkan tindakan dari Karmadi yaitu Syafri. Dia menuturkan kepada Metro Indonesia bahwa Karmadi itu sama halnya dengan kacang lupa kulitnya, padahal yang mendanai dia untuk dapat kursi empuk di dewan di masa kumpanye dulu adalah Wismen selaku Ketua Umum PAN Kabupaten Mukomuko. Setelah mendapatkan suara terbanyak Wismen dijadikan Musuh oleh Karmadi, bisa kita nilai bahwa air susu dibalas air tuba.

    “Karmadi itu termasuk golongan setan kah atau dajal,” ungkap Syafri kepada Metro Indonesia belum lama ini. Sebab kalau kita lihat dana dari Karmadi sendiri di mana dia itu mendapat modal untuk kampanye? “Sedangkan abu dapur orang tuanya saja kita mengetahui. Jadi tak usah sok lah jadi o-rang sekarang ini,” tambahnya. (KDRT 01)

Click here to edit

Back

 














© 2010 Surat Kabar Metro Indonesia OnLIne. All Rights Reserved 

 

This free website was made using Yola.

No HTML skills required. Build your website in minutes.

Go to www.yola.com and sign up today!

Make a free website with Yola