Biaya Pendidikan Kembali Mencuat Tinggi
Ujian Nasional untuk ke jenjang berikutnya, Ulangan Umum untuk kenaikan kelas, Tahun Ajaran Baru di depan mata. Orangtua murid kembali pusing dan mencari pinjaman sana-sini untuk biaya anaknya dengan istilah MENSANA-MENSANI.
Sementara penyelenggara ujian, testing dan Tahun ajaran baru, kembali berpesta pora dengan angka-angka yang pasti. Biaya ini, bayar ono dan lain sebagainya dipersiapkan untuk merogoh kocek orangtua murid.
Seperti untuk ujian nasional saja, untuk di tingkat SD (MI) dan SMP (MTs) ternyata masih banyak sekolah yang meminta uang kepada orangtua murid. Katanya gratis, tetapi tetap saja bayar, dan itu beragam, sejak Rp 500.000,- hingga ... waduh gak tau dech harus dirinci seperti apa besar biayanya.
Belum lagi ulangan umum kenaikan kelas, ada saja yang harus dibayar ini dan ono. Demikian pula di tingkat Taman Kanak-Kanak, dari beberapa bulan ini saja orangtua siswa TK banyak mengeluarkan biaya. Mulai dari gelar manasik haji, Porseni lah, Gelar ini, Gelar itu. Total-total hingga mencapai Rp 2.000.000,-
Ternyata juga tersiar berita, jeruk makan jeruk. Yakni alias, sekolah juga diduga diminta bayaran oleh pihak Diknas, Mapenda, Kelompok Kerja baik itu di Sekolah Nasional maupun di Sekolah Agama atau Madrasah. Semakin hebat pendidikan kita sekarang ini, ternyata praktek-praktek korupsi dan kolusi terus mewarnai glamournya dunia pendidikan.
Seperti sebuah keluhan seorang ibu rumah tangga, anaknya ada 3 orang, yang pertama kelas 3 SMA mau ujian, anaknya yang kedua kelas 3 SMP mau ujian, anaknya yg ketiga kelas 6 SD mau ujian. Katanya, untuk biaya keseluruhan ketiga anaknya itu mencapai Rp. 9.500.000,- Apakah sebesar itu? Terus kemana dana BOS dan BOP yang diperuntukan meringankan beban biaya pendidikan?
Dan ketika ditanya oleh sang Ibu kepada Kepala Sekolah atau Gurunya, jawab sang Kepala Sekolah dan Guru, untuk biaya Nomor Induk lah, Nomor Ujian lah, Komputerisasi di Diknas lah, NUPTK lah, dan banyak lainnya.
Bukankah biaya yang dimaksud tadi ada yang gratis atau tidak sebesar apa yang diperkirakan. Sekolah itu menjawab, “Biasa Bu ada biaya pelicin atau Uang Lancar,”.
Kalau tradisi ini terus sampai kiamat, korupsi tak kan pernah hilang dari Republik Indonesia, Bumi Pertiwi terus marah dengan adanya musibah-musibah lain.
Perut semakin membuncit dengan memakan uang haram yang dari hasil Korupsi, imbasnya Putra-Putri kita semakin bodoh, karena memakan uang korupsi Orangtuanya.
Kirim Komentar Anda....!!!
© 2010 Surat Kabar Metro Indonesia OnLIne. All Rights Reserved