Ada Dugaan Kuat Dana Bantuan PAUD Disunat
Laporkan Murtias ke Pihak Berwajib
KERINCI — Untuk mendapatkan uang di bidang pendidikan, ternyata sangat mudah dan gampang sekali. Yakni melalui dana BOS disewelengkan, dari fee untuk kepengurusan sertifikasi guru, dan masih banyak lagi yang lainnya. Sehingga pihak sekolah pun jadi ikut-ikutan, yakni menekan para orangtua murid untuk membayar ini dan itu, sehingga sampai kapanpun gembar-gembor tentang “Pendidikan Gratis” hanya kamuflase saja.
Sepertinya sudah merupakan tradisi, ketika dana bantuan mengucur kepada institusi pendidikan ini, para pelaksana kagiatan yang seharusnya benar-benar mengakomodir dan berperan serta turut berpartisipasi membantu percepatan pembangunan bidang pendidikan malah menganggap dana kucuran itu merupakan hadiah yang harus dibagi-bagikan.
Seperti di Dinas Pendidikan (Disdik) Kabupaten Kerinci disorot publik, mulai dari dugaan penyelewengan dana BOS, fee untuk kepengurusan Sertifikasi guru, indikasi tak tahu juntrungannya 460 juta bantuan bencal guru/TU, bantuan Pendidikan Pendidikan Formal dan Informal (PNFI) mulai dari paket kesetaraan (paket A,B,C), Keaksaraan Fungsional (KF), Kewira Usahaan Desa (KWD) dan berbagai bantuan lainnya dengan nilai milyaran rupiah.
Paling menghangat baru-baru ini dana DAK untuk 54 paket proyek pembangunan perpustakaan sekolah yang ditenderkan Disdik Kabupaten Kerinci terindikasi kuat mayoritas titipan oknum dewan. Bahkan sumber yang terlibat langsung dalam kepanitiaan tender proyek DAK itu sendiri mengakuinya ke tim investigasi Metro Indonesia.
Ironisnya, pihak ke III (kontraktor) sebagai pelaksana pekerjaan pembangunan dianggap sebagai pihak kelima, dana diterima kontraktor menjadi minim, karena dipangkas untuk fee mediator, persen untuk oknum dewan, dan yang paling nyata 10 persen untuk oknum kepanitiaan. “Fee yang terlalu besar ini tidak merupakan rahasia umum lagi”, sebut seorang kontaktor.
Kondisi indikasi bagi-bagi untung ini dijadikan para oknum sebuah fenomena adu kekuatan atau kemampuan menonjolkan prestise yang sepertinya tidak takut dan tak peduli hukum bahkan politikpun ambil bagian dalam kondisi ini, dan sialnya rakyat (orangtua murid-red) yang jadi korban.
Sementara oknum pihak berwenang sepertinya bungkam hanya sekedar basa basi untuk menindak lanjuti permasalahan ini, bahkan diduga kuat hal ini juga merupakan ajang bagi-bagi hasil untuk mereka.
Surat Kabar Metro Indonesia berusaha mengupas tuntas satu-persatu peyelewengan terkait kucuran dana disdik Kabupaten Kerinci.
Disunat Sepuluh persen
Bebeberapa peyelenggara Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Kabupaten Kerinci merasa geram terkait pemotongan dana sepuluh persen oleh Kasi Paud “Murtias” dari Disdik Kabupaten Kerinci.
Sepuluh persen diduga kuat dipotong dari masing-masing penyelenggara PAUD yang mendapat kucuran dana ini. Kucuran dana dekon TA 2010 ini merupakan bantuan untuk kegiatan kelembagaan PAUD Kabupaten Kerinci.
Pengakuan sumber penyelenggara PAUD, yang enggan dituliskan namanya mengatakan, bahwa mereka merasa terpaksa memberikan konpensasi 10 persen itu lantaran takut kalau-kalau dipersulit nantinya.
Disebut sumber, Kabid PLS/PNFI Bukri Muis malah melarang para penyelenggara PAUD agar tidak memberikan potongan 10 persen yang dimintai oleh Murtias tersebut, karena dianggap sudah menyalahi aturan. “Lebih baik kita berurusan dengan pak Bukri Muis karena beliau tidak setuju terhadap pemotongan 10 persen itu”, terang penyelenggara ini.
Penyelenggara ini mengakui bahwa lembaga PAUD yang dikelolanya mendapat kucuran dana 24 juta rupiah. “Kami terpaksa memberikan potongan 10 persen itu lantaran Murtias yang minta. Lagi pula Murtias sedang panik di Dinas Pendidikan Kerinci, dikarenakan bawahan dan rekan-rekannya tidak mengacuhkannya lantaran tidak pernah bagi-bagi rezeki”, ujar penyelenggara ini.
Namun dibantah Murtias ketika diminta konfirmasinya tim investigasi Metro Indonesia. Murtias membantah terhadap tudingan pemotongan 10 persen itu bantuan itu beragam, ada yang jumlahnya Rp 24 juta, Rp 15 juta, Rp 10 juta dan ada bantuan yang akan segera dikucurkan untuk PAUD Kabupaten Kerinci dari dana APBD Kerinci masing-masing senilai 10 juta rupiah.
Baru-baru ini Murtias sepertinya bertanya ke MI, “Bagaimana mungkin saya bisa potong dana itu, dari pusat melalui Kantor Pos Kerinci dana langsung dicairkan ke masing-masing rekening penyelenggara”. Padahal para penyelenggara mengakui bahwa dana 10 persen itu setelah cair ke rekening mereka barulah disetorkan kepada Murtias.
Hasil konfirmasi Metro Indonesia kepada Kasi PAUD Dinas Pendidikan Provinsi Jambi, Yusnidar melalui SMS terkait hal ini, katakan. “Dana itu bukan dari APBD provinsi, dana itu mungkin saja dana Block Grand atau bantuan langsung ke lembaga dari dana dekon,” terangnya. “Ya...! saya sudah wanti-wanti itu uang negara yang harus dipertanggung jawabkan, mereka yang dapat bantuan bukan hadiah yang harus dibagi-bagikan, Namun semua info ini sebagai bahan yang berharga untuk kami”, terang yusnidar kepada Metro Indonesia.
Sementara itu Kabid PLS Dinas Pendidikan Provinsi Jambi Wasino tidak memberikan jawaban apa-apa. Kadisdik Kabupaten Kerinci Mat Seri (11/9) di kantornya mengaku sudah memanggil Kasi PAUD murtias dan menanyakan langsung hal ini, namun murtias tetap bersikukuh membantah terhadap pengakuan dari penyelenggara itu.
Mat Seri juga telah memperingatkan Murtias, bahwa beberapa bukti rekaman pengakuan penyelenggara temuan Metro Indonesia sudah didengarnya. Bahkan Mat Seri sudah dipanggil pihak Dinas Pendidikan Provinsi Jambi dalam hal ini Kabid PLS Wasino dan Kasi PAUD Provinsi Yusnidar.
Mat seri menyarankan agar Murtias dilaporkan saja ke pihak berwajib agar diberi pelajaran. “Siapa berbuat dia menanggung akibatnya”, sebut Mat Seri.
Namun konon khabarnya, Murtias ada “dukungan” dari Bupati Kerinci, sehingga sepertinya susah untuk dibongkar kasusnya. “Murtias bukan keluarga Bupati Kerinci, tapi merupakan tim sukses biasa ketika pilkada”, tegas Mat Seri.
Kabid PLS/PNFI Bukri Muis mengakui telah dipanggil pihak kepolisian terkait dugaan kuat sunat dana PAUD 10 persen ini. Namun sampai kini tindakan hukum belum ada kejelasan yang pasti. (Jhontech/Doni)