Siapkan Densus untuk Memburu Pelaku Korupsi

 


     Tindak pidana korupsi nampaknya tetap saja terjadi dan merajalela di Negara Kesatuan Republik Indonesia, walau sudah didengungkan oleh Presiden RI H. Susilo Bambang Yudhoyono, tetapi tetap marak dan terjadi di berbagai belahan negeri Bumi Pertiwi ini.

     Keberadaan berbagai elemen dan lembaga swadaya masyarakat yang menyikapi tindak pidana korupsi, ditambah lagi dengan adanya para jurnalis yang terus mengungkap kasus demi kasus tindakan penyelewengan dana anggaran. Sedang para penyelenggara bebas korupsi terus dibuat pusing tujuh keliling, mulai dari pemerintah pusat, Komisi Pemberantasan Korupsi, aparat hukum yang menyikapi adanya tindak pidana korupsi.
Padahal tindak pidana korupsi merupakan tindakan yang dapat menghancurkan di semua bidang, baik itu kesejahteraan rakyat Indonesia, juga dapat menenggelamkan Negara Kepulauan yang kita cintai ini.

     Tentunya tindak pidana korupsi bisa dikategorikan sama dengan tindakan teroris, walau tindakannya berbeda, tetapi tetap saja menghancurkan sebuah negara. Kita dapat melihat, mendengar dan membaca apa yang terjadi di belahan muka bumi ini, khususnya di Republik Indonesia, korupsi selalu meledak bagaikan bom bunuh diri para teroris yang terjadi di berbagai daerah.

     Sementara sudah banyak juga pelaku tindak pidana korupsi yang dimasukkan ke dalam kerangkeng sel, namun masih juga para pelaku korupsi yang tetap terus berkumandang,

     Inilah yang menjadi tugas dan tanggung jawab, tidak saja penyelenggara bebas korupsi, tetapi juga masyarakat di seluruh Indonesia. Karena tanpa adanya laporan dan kerja sama dari masyarakat, para penyelenggara bebas korupsi tidak akan bisa mengetahui keberadaan adanya tindak pidana korupsi.
Begitu juga dengan teroris, kalau tidak ada laporan dan kerja sama masyarakat, tim Densus 88 sebagai aparat hukum dan keamanan anti teroris tidak akan sempurna.

     Sekarang, mungkinkah perlu dibentuk Densus untuk menangani tindak pidana korupsi. Jawabannya, itu pasti dan memang dibutuhkan pembentukannya. Kalau yang menangani teroris adalah Densus 88, tentunya bisa kita namakan sesuai dengan kebutuhan, misalkan untuk memburu para pelaku tindak pidana korupsi, bisa kita namakan Densus 99. Untuk memburunya juga mirip dengan Densus 88, langsung menangkap dengan cara-cara yang memang harus dilakukan.

     Semoga, tindak pidana korupsi terus berkurang di Republik Indonesia, karena kalau saja terus merajalela, sampai dimanapun lambat laun Indonesia akan tenggelam dan musnah. 


Kirim Komentar Anda....!!!

Komentar Anda Akan Kami Muat di Metro Indonesia.
















© 2010 Surat Kabar Metro Indonesia OnLIne. All Rights Reserved

 

This free website was made using Yola.

No HTML skills required. Build your website in minutes.

Go to www.yola.com and sign up today!

Make a free website with Yola