Gas Elpiji di Kab. Kerinci Diduga Belum Layak Beredar

 


     Kerinci — Sebanyak 50 ribu gas elpiji telah diedarkan diseluruh desa kerinci-jambi. Tujuan program pemerintah konversi mitan ke gas ini,  diduga belum layak edar untuk kabupaten kerinci dan kota sungai penuh. Pasalnya Belum adanya sosialisasi kepada masyarakat, belum tersedianya kartu hijau/asuransi sebagai jaminan kalau-kalau terjadi insiden nantinya dan belum tersedianya Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) atau Stasiun Pengisian Bahan Bakar Elpiji (SPBBE) untuk pengisian ulang.

     Hal ini diakui oleh pihak Suplier/distributor dari PT. SPS (Sehat Pratama Sejati) atas nama Agus ketika investigasi lansung di lokasi pendistribusian elpiji didesa sikungkung kecamatan depati tujuh kabupaten kerinci. Agus mengatakan bahwa sosialisai yang telah dilakukan hanya di kota sungaipenuh, itu pun hanya sebatas wilayah kecamatan. Sedangkan untuk desa-desa sekabupaten kerinci belum dilaksanakan.

     Agus melempar tanggung jawab ini kepada pihak  perusahaan yang bertugas sebagai sosialisator disebut dalam hal ini adalah PT. Kencana Mandiri Uli Nusantara dengan supervisor Roni Firman dan Ramdani S. SOS sedangkan dirinya hanya sebagai Pendataan dari PT. Sehat Pratama Sejati. Tempat pendistribusian pun mengkhawatirkan karena terhampar pada ruang terbuka tanpa pengamanan, diduga tidak menurut aturan sebagaimana mestinya sesuai pedoman teknis penyimpanan tabung LPG yang dikeluarkan Kementerian ESDM cq.Direktorat Jenderal Migas.

     Salah satunya disebutkan bahwa pendistribusian harus diruang tertutup, cukup ventilasi dan berbagai aturan lainnya. Dikhawatirkan tertimpa hujan dan panas akan menimbulkan korosi, hingga tabung menjadi labil. Dilokasi penyimpanan terpantau hanya tabung gas keluaran tahun 2010 namun kenyataan di lapangan setelah dibagikan kemasyarakat didapati tabung keluaran tahun 2007 dan 2009.  Agus tidak pernah memberi kesempatan kekoran ini untuk klarifikasi kepada orang yang bertanggung jawab terhadap hal ini. Bahkan ketika ditanya beberapa keabsahan surat, seperti surat resmi legalitas standart pertamina, hasil pengujian hidrostastik di laboratorium,  dan Sertifikat SNI, dalam hal ini Agus tidak dapat memperlihatkannya.

     Anehnya Agus memberi kesempatan kepada koran ini berbicara melalui handphone semula diduga sebagai penanggung jawab susbsidi ini. Namun ternyata seorang  bernama Jefri mengaku sebagai wartawan dari Radar Bima. Dikatakannya, “Maklumi saja Pak.., kita sama-sama wartawan”, ungkap jefri. Jefri yang ngaku wartawan ini memberikan jawaban bernada intimidasi dengan makna agar proyek ini jangan diganggu.

     Untuk kedua kalinya Agus menghadapkan klarifikasi koran ini kepada seorang wartawan Jambi Daril Alfat. Daril  mengakui bahwa dirinya ikut dalam proyek subsidi itu. Semula Jawabnya juga bernada sama dengan Jefri, “Ini Program SBY, tanya langsung sama SBY”, tandasnya. Namun kemudian dijelaskannya Daril bahwa stackholder subsidi ini yang bermasalah dan distributor sebagai kambing hitamnya. Konsultan sosialisai dan bagian Asuransi terpisah dari distributor , katanya daril.

     Kepala Dinas Perindag Kerinci “Mansuri Madin” semula menampik tudingan bahwa pengedaran subsidi gas ini tidak ada sosialisasi, namun setelah didesak atas dasar pengakuan distributor Agus Mansuri membenarkan hal ini bahkan dikatakannya bahwa dinasnya tidak dilibatkan lansung untuk sosialisasi. Kasi Energi Migas dan Kelistrikan Dinas Perindag Kabupaten Kerinci “Afyar” menuturkan bahwa ketika itu, konsultan sosialisasi/ Verifikasi berkoordinasi dengan dirinya untuk rencana sosialisasi terkait subsidi Gas elpiji 3 kg. (Tim)

 

Kirim Komentar Anda...!!!

Komentar Anda Akan Kami Muat di Metro Indonesia













© 2010 Surat Kabar Metro Indonesia OnLIne. All Rights Reserved

 

This free website was made using Yola.

No HTML skills required. Build your website in minutes.

Go to www.yola.com and sign up today!

Make a free website with Yola