
Sayuran di Indramayu Naik |
INDRAMAYU — Pasokan berbagai jenis sayuran dari petani di pantura Kabupaten Indramayu, Jawa Barat mulai berkurang sehingga mengakibatkan harga komoditas tersebut terus mengalami kenaikan hingga 60 persen.
Maemunah pedagang sayuran di Pasar Haurgeulis Indramayu kepada wartawan di Indramayu, Kamis, menuturkan, selama musim hujan sejumlah petani pemasok sayuran memasuki awal tanam sehingga persediaan sayuran menipis sehingga pasokan setiap pekan terus berkurang dibandingkan sebelumnya.
Di Pasar Harugeulis Indramayu bagian barat berbagai sayuran seperti bunga kol kini dijual Rp11.000-Rp12.000 per kilogram kualitas baik padahal sebelumnya hanya dijual kurang dari Rp7.000 per kilogram, sedangkan sawi hijau mencapai Rp6.500 per kilogram harga sebelumnya Rp4.000.
Menurut dia, pasokan sayuran dari petani setempat juga dari Kabupaten Bandung dan Kuningan cukup mempengaruhi harga jika melimpah harga sayuran rendah namun sebaliknya gagal panen juga masa tanam kesulitan mendapatkan pasokan sayuran tersebut. Permintaan sayuran di Kabupaten Indramayu cukup tinggi, kata dia, karena sayuran harganya masing terjangkau selain itu kesadaran masyarakat untuk konsumsi sayuran meningkat dibandingkan sebelumnya sehingga pasokan kurang harga langsung naik.
Dikatakannya, sayuran di Kabupaten Indramayu masih didatangkan dari Bandung dan Kuningan, seperti sawi hijau, kol bulat, wortel, buncis, kentang, karena lahan pertanian di pantura cukup dominan tanam padi meski kini mulai dikembangkan sayuran dataran rendah. Sementara itu Muhidi ketua kelompok tani sayuran dataran rendah di Indramayu menuturkan, lahan pertanian di pantura Kabupaten Indramayu kini mulai dikembangkan berbagai jenis sayuran dataran rendah dan cukup berhasil sehingga bisa menutupi kebutuhan sayuran meski belum maksimal.
Ia menambahkan, jenis sayuran dataran rendah yang dikembangkannya kini mulai merambah pasar ekspor karena kualitas sayuran dari pantura cukup baik dengan tetap menggunakan pupuk organik dari limbah jamur merang sebagai bahan pupuk organik tersebut. “Sayuran dataran rendah yang menggunakan pupuk organik diminati konsumen Jepang, Singapura, Taiwan, namun permintaan ekspor belum terpenuhi karena produksi sayuran masih terbatas dan sering berebut dengan pasar lokal,” katanya.
Kepala Seksi Produksi Hortikultura Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Indramayu, Anang mengaku, pengembangan berbagai jenis sayuran dataran rendah yang dikelola oleh petani pantura hasil panennya diminati konsmen Jepang dan Singapura karena mereka menggunakan pupuk organik.
Ia menambahkan, permintaan pasar eksport dan pasar lokal cukup tinggi karena konsumen percaya sayuran dataran rendah dengan menggunakan pupuk organik dimanati konsumen sehingga pemasaran hasil panen mudah dan harganya mahal.
Menurut dia, kini berbagai jenis sayuran di pantura Kabupaten Indramayu mengalami kenaikan akibat sejumlah petani di Kabupaten Bandung, Kuningan, memasuki awal masa tanam sehingga persediaan sayuran mereka kurang maksimal pasokan terus berkurang.
Sementara di Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta Timur juga terjadi pelonjakan harga, khusus cabe merah yang menjadi kebutuhan utama. Hal itu dikemukakan Saepudin, pedagang cabe di los sayur mayur Pasar Induk. “Harganya memang saat ini cukup tinggi, namun untuk akhir tahun dan menjelang tahun baru 2012, pasokan cabe cukup stabil, walau harganya tinggi,” ujar Kang Aep, panggilan akrab Saepudin.
Namun menurut putra daerah Banten itu, bahwa harga-harga yang ada di Pasar Induk memang merupakan menjadi rebutan pedagang biasa dari berbagai daerah. Tidak hanya Jawa Barat dan Jabodetabek saja, tetapi juga hingga ke Sumatera, Kalimantan, Jateng, Jatim dan pulau Sulawesi. “Kami bersyukur, terutama para pedagang yang ada di Pasar Induk ini, karena merupakan pasar terbesar seluruh Indonesia. Sehingga pedagang dan agen di seluruh Indonesia datang ke Kramat Jati,” tambah Kang Aep. (ilham)
Kirim Komentar Anda...!!!
© 2010 Surat Kabar Metro Indonesia OnLIne. All Rights Reserved