Kades Ujung Tolan Sugiman Kelakuannya Mirip Binatang

Sutini (40) isteri muda Kepala Desa Sugiman dikediamannya di Desa Ujung Tolan.

    Mukomuko – Manusia dengan binatang memang berbeda, namun kadangkala perbuatan manusia bisa melebihi binatang. Tidak perduli dengan apa yang akan terjadi kemudian, yang penting untuk kepuasan pribadi manusia itu sendiri. Hal itu juga berlaku kepada Kepala Desa (Kades) Ujung Tolan Desa Sido Mulyo, akibat perbuatannya yang sudah cacad moral dan sulit merubah tabiat dan kesenangannya.

    Sugiman yang baru menjabat sebagai Kades Ujung Tolan telah mengolah kayu secara illegal di hutan lindung Desa Sido Mulyo, perbuatannya tidak hanya sekedar melebihi kapitalis, tetapi juga mirip dengan penjajah yang merugikan masyarakatnya.

    Sementara izin IPKR dari Dinas Kehutanan Kabupaten Mukomuko apakah sudah dimilikinya, begitu juga dengan seenaknya menjual tanah kebun milik warganya kepada orang lain.

    Kades Sugiman kerjanya seperti dengan Tuan Tanah. Kalau dihitung sudah puluhan hektar hutan di tebang secara liar oleh Kades yang tidak bertanggung jawab itu, dan lahan warga yang dijual kepada para pendatang. Begitu juga dengan kegiatan sehari-hari dia menggesek kayu dengan Chinsaw, atau gergaji mesin.

    “Hal ini harus ditindak kebenarannya demi tegaknya supermasi hukum di Kapuang Sati Ratau Batuah ini, dan memang Kades yang satu ini sangat tidak disukai oleh masyarakat setempat,” ujar beberapa warga yang layak dipercaya kepada Metro Indonesia beberapa waktu lalu.

    Kelicikan kades Ujung Tolan antara lain, sanggup menjual tanah kebun milik warga masyarakatnya sendiri. Seperti tanah kebun milik Siswoyo yang diperkirakan telah dijual oleh Kades yang berjiwa korup itu, namun waktu mau ditemui sang Kades tidak pernah bisa ditemui. Dia sengaja menghilang main kucing-kucingan dengan warga. “Maklum mafia tanah yang berjiwa bejat,” ujar warga.

    Kedes Sugiman sebelumnya didampingi oleh seorang wanita yang bernama Syamsiar, mereka membina rumah tangganya telah dikaruniai putra putri tiga orang (Satu orang Putra dan Dua orang Putri-red). Karena jabatannya selaku Kades dan merasa orang terpenting di Desa Sido Mulyo, Sugiman sering KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga).

    Karena merasa banyak duit dengan hasil menjual hutan secara illegal, tanpa diketahui oleh Syamsiar, Sugiman diam-diam menikahi Sutini, wanita janda beranak lima (Tiga Putra dan Dua Putri). Sutini berasal dari Lampung tepatnya dari Desa Teluk Betung. Dengan usia istri mudanya itu dua tahun lebih tua dari Sugiman, sedangkan Sutini berusia 40 Tahun, Sugiman baru berumur 38 Tahun, namun kalau cinta sudah lengket, apapun enak dimakan walau tai kucing sekalipun.

    Menyingkapi perlakuan Sugiman yang kawin betambuh membuat Syamsiar tidak mau terbagi cintanya dan dia tidak mau dimadu. Syamsiar minta cerai dengan Sugiman. Sekarang janda Sugiman itu untuk menghibur dirinya, Syamsiar bekerja menjadi buruh harian di PT. Agro Muko.

    Menindak lanjuti ulah sang Kades yang kurang bermoral itu membuat masyarakat Desa Sido Mulyo sangat muak melihat tingkah laku Kades yang tidak memberikan contoh yang baik terhadap masyarakatnya, dan berharap kepada Bupati dan pihak Hukum yang terkait agar menindak lanjuti perbuatan kades yang semena-mena menebang hutan dan mengolah kayu yang diduga secara illegal.

    “Semoga kehidupan masyarakat Desa Sido Mulyo Ujung Tolan tentram dan aman dan terhindar dari virus sang Kades yang kurang bermoral itu, agar sang Kedes diberikan hukuman yang setimpal dengan perbuatannya,” tambah warga tadi.

    Wartawan Metro Indonesia berupaya menghubungi Sugiman untuk konfirmasi dan menanyakan kebenarannya sebagaimana yang ditudingkan masyarakat Desa Sido Mulyo. Namun Sugiman tidak hanya sulit untuk ditemui hingga berita ini diterbitkan, diduga ada simpanan lainnya.

    Ini menjadi Pekerjaan Rumah (PR) untuk Dinas Inspektorat (Bawasda) Kabupaten Mukomuko untuk mengusut kasus Kades Desa Sido Mulyo Sugiman yang menjual Hutan secara Illegal tersebut. Dinas Inspektorat Kabupaten Mukomuko kehadirannya hanya sekedar pelengkap instruktur kepemerintahan saja, karena tidak pernah ada kegiatan Dinas yang satu ini pekerjaan para staf Dinas Inspetorat ini hanya sekedar ongkang-ongkang kaki, makan gaji buta.

    Ulah para Kades tidak pernah terpantau oleh Bawasda. Akhirnya masyarakat Kabupaten Mukomuko mengimbau kepada Bupati Kabupaten Mukomuko agar bubarkan saja Dinas Inspetorat yang tidak berfungsi ini, agar manusia yang bekerja di Dinas yang satu ini jangan enak-enak saja makan gaji Buta. (ICW)

Kirim Komentar Anda..!!












© 2010 Surat Kabar Metro Indonesia OnLIne. All Rights Reserved

This free website was made using Yola.

No HTML skills required. Build your website in minutes.

Go to www.yola.com and sign up today!

Make a free website with Yola