
Konsekuensi Kemanusiaan tak Dianggarkan Kab. Kerinci
Kerinci — Kadis wisata kerinci “Arlis Harun” ketika ditanyai Apakah ada upaya santunan/bantuan Pemkab untuk salah seorang pegawai honor UPTD wisata danau kerinci “Hudriadi” warga desa pulau pandan kecamatan batang merangin kerinci, terkait nyaris putus kaki akibat dari mesin pemotong rumput, ketika melaksanakan tugas sehari-harinya.
Arlis Harus sepertinya tidak memberikan upaya untuk pengusulan bantuan kepada Pemkab Kerinci terhadap korban. Bahkan dengan tegasnya Arlis menjawab kekoran ini, “Tidak ada upaya untuk itu”, tukasnya. Arlis terang-trangan menjawab, “PNS saja untuk musibah seperti ini tidak ada anggaran apalagi untuk tenaga honor”, jawabnya tegas. Disamping itu Arlis juga menjawab bersifat diskriminatif, Perilaku kedaerahan lebih ditonjolkan ketimbang rasa kemanusian. “Dia itu kan orang pulau pandan, kita sama tahu saja perilakunya”, pungkas arlis.
Korban “Hudri” memiliki satu putra dan seorang istri ini memelas kekoran ini, karena kondisi ekonomi pas-pasan untuk hidup dan masih numpang dengan mertua. Nasib yang mereka terima adalah pasrah, karena kondisi kaki kirinya terkena sabetan mesin pemotong rumput.
Ketika sedang melaksanakan tugas seperti biasanya, memotong rumput dilokasi kantor dinas UPTD wisata danau kerinci. Naas bagi dirinya pisau pemotong patah dan melayang mengenai kaki kirinya 24 Desember 2010. Korban dirujuk kerumah sakit umum Dr.M. jamil, Padang, Sumatera Barat. Alhamdullillah Kakinya tak jadi di amputasi/ dipotong.
Hudri harus menjalani perawatan intensif selama 4 hari rawat inap di RSU M. Dajamil padang. Karena ketidak mampuan ekonomi arlis meminta kepihak rumah sakit agar diberikan izin untuk perawatan dirumah saja, alias harus kembali ke kabupaten kerinci-jambi. Namun Arlis harus cek up secara rutin kerumah sakit umum Kerinci.
Hudri mengungkap keluhannya kekoran ini bahwa biaya pengobatan untuk hari-harinya menjelang penyembuhan tidak dimilikinya. Perawatan intensif di kerinci, hanya sekedar Cek Up sementara resep pemberian dokter tidak pernah ditebus lantaran tidak memiliki biaya.
Sampai saat ini Hudri tenaga honor yang sudah di SK kan Kadis wisata kabupaten kerinci ini terpaksa istirahat dirumah untuk beberapa waktu lama menjelang kesembuhan kakinya, namun sampai saat ini dirinya masih memikirkan untuk biaya hutang selama ini menumpuk untuk musibah yang dideritanya. Dirinya berupaya memikirkan biaya untuk pencabutan besi penopang/ Pen kakinya jika sembuh nantinya. Hudri yang hidupnya masih bergantung dengan mertua yang profesinya sebagai petani didesanya.
Ditutur Hudri bahwa biaya pengobatan di Rumah sakit umum padang Rp.11.500.000,- belum termasuk biaya lain-lain seperti transport. Hudri memikirkan nasibnya untuk biaya perawatan intensif di Kabupaten kerinci menjelang operasi kecil.
Hudri mengharapkan agar pemkab sudi dan peduli terhadap dirinya agar dapat segera sembuh dapat bekerja kembali seperti biasanya. Diakui Hudri dirinya secara sukarela telah dibantu sekedarnya oleh dinas wisata kabupaten kekrinci, hanya sebagai pengganti biaya transportasi ke untuk berobat ke rumah sakit umum padang.
Sumber masyarakat desa ini yang prihatin terhadap korban berpendapat bahwa pemerintah dan dewan dapat lebih proaktif agar konsekwensi kemanusian untuk PNS maupun honorer dianggarkan sebagai mana mestinya, jangan adanya anggaran lebih proaktif kepada bantuan yang tidak sebagaimanya mestinya. Seperti adanya dugaan temuan BPK RI TA.2009, anggaran untuk keperluan acara kenduri lebih banyak ketimbang anggaran konsekwensi moral dan juga terlalu banyaknya pengeluaran anggaran untuk keperluan pejabat ke luar daerah. “saya baca ini di berita Jambi Global Online 17 Januari 2011 pada alinia 10”, pendapat sumber ini. (Jhontech/Yosep)
Kirim Komentar Anda....!!!
Back
© 2010 Surat Kabar Metro Indonesia OnLIne. All Rights Reserved