Mendobrak di Awal Tahun 2011 Bangkitnya Irama Musik Dangdut


Leo Waldy bersama Wartawan (Redaktur Pelaksana) Metro Indonesia.

    JAKARTA — Pada pergantian tahun 2010-2011 ternyata seluruh kawasan hiburan, mulai dari lapangan bola, kafe, kawasan pantai di pelosok daerah seluruh Indonesia, irama musik dangdut benar-benar menggema dan menggoyang bagi para penonton yang hadir.

    Seperti di Pantai Festival Ancol dengan kehadiran Rhoma Irama dengan Soneta Groupnya, kemudian H. Mara Karma, Yus Yunus, Ira Safira, Hetty Soendjaya, Jacky Zimah, Tiwul Petrani, Trio Aisyah, dan lainnya menggebrak di Pantai Merak, juga sebelumnya Trio Macan dan Trio Cakar Elang menggebrak masyarakat Bangka Kepulauan Riau, Hamdan ATT, Jhony Iskandar di Medan. Belum lagi di beberapa kafe dan hotel-hotel, irama dangdut benar-benar menggelora bak iramanya yang mendayu-dayu.

    Dengan pergelaran musik dangdut tersebut, tentunya suatu dobrakan bangkitnya musik dangdut di tanah air Indonesia di awal pergantian tahun 2011 ini. Apalagi sebelumnya penyanyi dan pencipta lagu terus dirundung duka, seperti Meggy Z dan Ellya Kadam telah pergi menghadap Tuhan Al-Khaliq akhir tahun 2009, kemudian belum lama ini, Kuntet Mangkulangit yang sukses dengan lagunya “Judul-Judulan” dan “Terlena” juga telah meninggal dunia. Wartawan Metro Indonesia mengutip ungkapan penyanyi dan insan dangdut di berbagai daerah.

    Leo Waldy menyatakan, bahwa dangdut berhasil kembali mengaung di dunia blantika musik Indonesia dengan adanya industri dangdut itu sendiri. “Tanpa adanya industri dangdut, irama yang bisa menggoyang kita ini tidak akan bisa bangkit. Lagu sudah ada, penyanyi banyak, tapi industri lagu tidak ada, ya... bisa tamat,” ujar pelantun dan pencipta lagu “Seandainya Dapat Bertemu Tuhan” itu kepada wartawan Metro Indonesia melalui telepon genggamnya beberapa waktu lalu.

    Ditambahkan Leo Waldy, belum lagi dengan adanya beberapa oknum yang benci dengan musik dangdut membuat suasana keruh, sehingga mengakibatkan orang yang tadinya senang dangdut menjadi tidak. “Sampai-sampai ada orang malu memakai nada sambungnya dengan musik dangdut di Handphone (HP)nya, padahal orang itu sangat mencintai dangdut. Orang itu ngomong sendiri kepada saya,” ujar Leo.

    Masih dalam ingatan kita tentang kasus Aida, terbukti ada saja oknum yang menyangkut-pautkannya kepada musik dangdut.
Penyanyi dangdut seksi, Lilis Karlina menyebutkan, kasus yang menimpa Aida Saskia dengan da’i Zainuddin M.Z. tidak ada kaitannya dan tidak berpengaruh terhadap imej musik dangdut. Sebab persoalan itu masalah pribadi, sedangkan musik milik semua orang.

    "Enggak ada pengaruhnya, meski Aida penyanyi dangdut. Emangnya penyanyi dangdut cuma Aida saja? Lagian setiap orang punya masalah sendiri-sendiri. Musik 'kan bukan punya Aida, musik itu punya semua orang," ujarnya saat ditemui di acara syukuran PT Bunda Gemilang Creatifindo di Kompleks Ruko Sunter Permai Indah, Jakarta Utara, belum lama ini.

    Lebih lanjut penyanyi berbibir sensual ini, tidak ingin mencampuri urusan orang lain. Baginya itu merupakan sebuah masalah pribadi dan harus diselesaikan secara pribadi. Jangan selalu dikait-kaitkan dengan musik dangdut.

    "Jujur aku tidak terlalu memedulikan masalah orang. Itu masalah pribadi yang harus diselesaikan secara pribadi juga. Kita 'kan belum tahu sampai di mana permasalahan Aida dengan Pak Haji, jadi jangan bicara yang buruk dulu," jelasnya.

    Dan yang perlu diketahui, bahwa musik dangdut selalu teringat dengan beberapa penyanyi/pencipta era sebelum tahun 1970-an. Husein Bawafie, Munif Bahaswan, Ellya Kadam, M. Mashabi, Johana Satar, Hasnah Tahar, sekarang ini benar-benar menjadi kenangan semuanya.

    “Pelaku dangdut memang sudah banyak yang mati, tetapi dangdut tidak pernah mati. Karyanya patut kita pertahankan. Hormatilah karyanya, hargailah perjuangannya yang telah mensukseskan para penyanyi melalui karya-karyanya,” ujar Bunda DR. Hj. Nurhayati Permana, pimpinan Paramida Manajemen Bunda Gemilang Creatifindo.

    Ratu dangdut Hj. Elvi Sukaesih pernah mengungkapkan, selama ini dangdut terpuruk akibat adanya beberapa oknum dari pelaku dangdut itu sendiri. “Mari kita bangkitkan kembali irama dangdut ke depan, sangat saya sesali dengan adanya oknum pelaku dangdut itu sendiri yang akhirnya dangdut tidak berkibar,” ujar pelantun “Pesta Panen” yang lahir pada tanggal 25 Juni 1951 itu pada saat menghadiri acara pernikahan di kawasan Kramat Jati Jakarta.

    Tentunya di tahun 2011 ini kita tunggu gebrakan-gebrakan para musisi dangdut Indonesia untuk kembali berkiprah, sehingga tidak ada lagi redupan, padahal musisinya tidak pernah berhenti berkarya. Seperti yang yang pernah dilakukan D’Duta dengan dipromotori Ikke Nurjanah, Kristina, Cici Paramida, Evie Tamala, Iyeth Bustami, Iis Dahlia, Ine Sinthya dan Erie Susan, D'Duta berdiri untuk kembali menggairahkan industri dangdut. Kita tunggu di tahun 2011.(Ilham A. Yani)

Kirim Komentar Anda....!!

Komentar Anda akan Kami Muat di Metro Indonesia

Back

 

This free website was made using Yola.

No HTML skills required. Build your website in minutes.

Go to www.yola.com and sign up today!

Make a free website with Yola