Dana Bansos Batam Rp 22 Miliar Dirampok
Penjarakan Ahmad Dahlan dan Sekot Agussahiman


    BATAM, KEPRI — Kasus yang menghebohkan masyarakat batam ini, kini kasusnya di tangani Kajari Batam, sampai sejauh ini pihak Kajari Batam menetapkan bendahara keuangan, Raja Haris sebagai tersangka, lalu siapa menyusul? Ahmad Dahlan atau Agussahiman selaku Sekretaris Kota atau kedua-duanya turut serta dalam dugaan tindak pidana kejahatan tersebut?

    Modus yang digunakan para pelaku kali ini dengan membuat permohonan fiktif dari berbagai yayasan panti asuhan, pondok pesantren masjid, rumah sakit, mushallah dan organisasi lainya. Mereka beraksi bak pembuat dokumen asli tapi palsu, seolah-olah asli padahal pihak yayasan, panti asuhan dan lain tidak pernah mengajukan proposal. Modus lain dengan memberikan bantuan tidak sesuai dengan yang diterima si pemohon.

    Mengetahui dana yang seharusnya buat masyarakat batam diselewengkan  pemerintah sendiri sang “pembisik”, meminta kajari batam mengusut kasus ini dituntaskan.

    Pemerintah yang seharusnya di beri kewenangan dan tanggung jawab untuk mengentaskan kemisikinan, di Batam malah sebaliknya, dana yang seharusnya untuk orang  miskin dan anak yatim diselewengkan untuk kepentingan para elit Pemko Batam. Untuk tahun 2009, Bansos Pemko Batam dianggarkan Rp. 22 Miliar dan terealisasi Rp. 21 Miliar. Angka tersebut belum seberapa jika dibandingkan dengan Bansos tahun 2006 dan 2007, yang masing-masing Rp. 40 Miliar dan Rp. 54 Miliar.

    Bansos Pemko Batam mencuat sebenarnya bukan hanya tahun 2009 saja, sebelumnya tahun 2005 sejumlah aktivis LSM tergabung dalam Tim Pemburuh Anggaran Fiktif (TPAF) menuntut Pjs. Walikota Batam – Manan Sasmita untuk menjelaskan penyaluran dana bansos tahun 2005. Sementara untuk Bansos tahun 2004, berdasarkan hasil audit BPK tahun 2005 ditemukan Rp. 1,4 Miliar dana bansos digunakan untuk kepentingan internal Pemko Batam, khusus Kantor Perwakilan di Jakarta.

    Sementara penyaluran dana bansos yang selama ini dinyatakan tidak bermasalah oleh BPK justru cenderung dimanipulatif, diselewengkan, bahkan dikorupsi. Secara berturut-turut, dana bansos tahun 2004 sebesar Rp. 19 Miliar, tahun 2005 sebesar Rp. 21 Miliar, tahun 2006 mengalami lonjakan yang luar biasa menjadi Rp. 40 Miliar (itupun penambahan sekitar Rp. 20 Miliar dilakukan di APBD Perubahan TA 2006), tahun 2007 masih ditambah menjadi lebih besar Rp. 54 Miliar. (Arin Efendi/Ramsen) Bersambung

Kirim Komentar Anda...!!












© 2010 Surat Kabar Metro Indonesia OnLIne. All Rights Reserved

 

This free website was made using Yola.

No HTML skills required. Build your website in minutes.

Go to www.yola.com and sign up today!

Make a free website with Yola