yel-yel Presiden RI Disalah-Artikan

PT. CCI Rampas Tanah Kebun Rakyat


    PESISIR SELATAN - Sesuai dengan surat pernyataan dan perjanjian yang disepakati bersama pada tanggal 15 Mei 1999 antara masyarakat Tapan, Kecamatan Pancung Soal, Kabupaten Pesisir Selatan, Provinsi Sumatera Barat dengan PT. Cipta laras Cipta Indonesia (CCI) atas nama, Ir. Z.S. Mawuntu (62) selaku Pjs. Administratur, H. Zainir Areef (53) yang ditunjuk sebagai Direktur Operasional.

    Isi perjanjian, kami atas nama PT. CCI Padang/Lunang yang mana kami mengakui keterlambataan dalam membangun kebun plasma Kelapa Sawit untuk 4 (empat) Desa di Nagari Tapan yaitu Desa Kumbung, Desa Bukit Tapus Desa Lunang dan Desa Sindang dengan Areal yang sudah diserahkan oleh penghulu Nagari Lunang kepada PT. CCI untuk dijadikan kebun plasma milik masyarakat.

    Keterlambatan pembuatan kebun Plasma oleh PT. CCI bukan disengaja tapi disebabkan banyak faktor seperti teknis dan terlambatnya pencairan dana dari Bank, selanjutnya PT. CCI berjanji kepada masyarakat Kenagarian Lunang sebagai berikut, (1) PT. CCI tetap akan membangun Kebun Plasma Sawit seluas 2.616 HA dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun terhitung dari tanggal 1 Juni 1999 hingga 1 Juni 2002 dengan memperhatikan rambu-rambu Dinas Perkebunan dan tidak bekerja asalan saja. (2) PT. CCI dalam melaksanakan Kebun Plasma Sawit ini, akan memanfaatkan tenaga kerja setempat sesuai dengan keahliannya. (3) Dalam Pelaksanaan terjadi bencana alam diluar kekuasaan kita waktu pelaksanaan akan disesuaikan. (4) Apabila telah sampai jangka waktu yang telah ditentukan, ternyata kebun Plasma belum siap, maka semua fasilitas milik PT. CCI yang bergerak ataupun yang tidak bergerak yang berada pada 4 (empat) Desa tersebut menjadi milik 4 (empat) Desa tersebut (Nagari Lunang). (5) PT. CCI bersedia mengerjakan tambahan areal menurut KPPA yang ditentukan oleh  Bank Indonesia dalam jangka waktu 3 (tiga) tahun kedepan, 2005 sesuai dengan lahan tersedia. (6) Untuk kelancaran Pembangunan Kebun Plasma Sawit tersebut, pihak dari permasalahan penghulu dan pemuka masyarakat akan menyelesaikan dengan bidangnya masing-masing. Perjanjian ini diketahui oleh Kepala Perwakilan Kecamatan  Pancung Soal Lunang Silaut Drs. Fery dan Ketua KAN Lunang Syafruddin DT. Ampang Lebu.

    Dalam ketentuan dari kesepakatan yang dibuat adalah dalam tempo satu tahun setelah tanah ulayat diserahkan kepada PT.CCI seandainya tanah tersebut tidak diolah oleh PT. CCI, maka secara sendirinya tahah ulayat tersebut kembali menjadi hak ulayat masyarakat Kecamatan Pancung Soal.
Memang kenyataannya PT. CCI terlambat untuk mengerjakan Kebun Plasma Sawit yang diserahkan oleh masyarakat Kecamatan Pancung Soal. Sehingga pada tanggal 15 Agustus 2008  juga telah dibuat surat penunjukan tokoh masyarakat terdiri dari Pm. Alam Suhur dari Ninik mamak Dt. Gedang Dirajo, alamat Kampung Air Batu Tapan, Syahmardi, Dt. Gedang Dirajo alamat Kampung Nilau Tapan, Pm. Effendi, Ninik mamak Dt. Sati, Alamat Kampung Nilau Tapan, Ketua tokoh masyarakat Dt. Sati alamat Kampung Bakir Tapan, Pm. Abu Nazar Ninik mamak Melayu Gedang alamat Kampung Nilau Tapan dan sekaligus menunjuk tokoh masyarakat (orang tuo ninik mamak) di Blok D.I dan D.2 dalam lokasi perkebunan CCI yaitu Maison (65) alamat Kampung Bakir Tapan pernyataan dari 5 orang ninik mamak tersebut ditandatangani diatas materai Rp 6.000,-.

    Pada Tanggal 16 Februari 2009 disurati oleh Kerapatan Adat Nagari (KAN) Inderapura Kecamatan Pancung Soal yang ditandatangani oleh Ketua KAN Salmin Rky. Rj. Melayu Nomor: 10/KAN-IND/II/2009 perihal Pelarangan menggarap tanah Ulayat milik masyarakat, surat ditujukan kepada Pimpinan PT. CCI di Padang.

    Adapun inti isi surat menindak lanjuti surat KAN yang ditujukan kepada Bupati Pesisir Selatan pada tanggal 30 Juni 2008 Nomor 57/KAN –IND/VI/2008 dengan perihal mohon peninjauan kembali Penyerahan tanah Ulayat Nagari tanggal 29-05-1993 kepada PT. CCI peruntukan lahan inti seluas kurang lebih 1.860 di wilayah Inderapura, maka untuk itu sebelum ada penyelesaian antara PT. CCI dengan KAN Inderapura terutama lahan AI, BI, CI, DI, D2 dari awal-awal tidak dimasukkan dalam areal perkebunan PT. CCI dan lahan tersebut sudah dikelola oleh masyarakat sebelum PT. CCI masuk ke wilayah Inderapura. Atas permasalahan tersebut diatas agar PT. CCI tidak menggarap lahan masyarakat, bibit yang terlanjur ditanam oleh PT. CCI di kebun milik masyarakat diharapkan dicabut kembali.

    Begitu juga dengan surat KAN dengan Nomor: 57/KAN-IND/VI/2008 meminta kepada Bupati Pesisir Selatan agar Mohon peninjauan kembali Penyerahan Tanah Ulayat Nagari Inderapura Tanggal 25-05-1993 Kepada PT. CCI Peruntukan lahan Inti Seluas 1850 HA untuk wilayah Inderapura karena Ninik mamak Penghulu Suku Nan 20 Pucuk Adat Kp. Dalam Inderapura Kecamatan Pancung soal Kabupaten Pesisir Selatan bahwa pada tanggal 29-05-1993 antara KAN Inderapura bersama-sama dengan KAN Tapan telah menyerahkan tanah ulayat nagari  10.000 Ha, Kepada Bupati Pessel (Masdar Saisa) yang berlokasi di Desa Sungai Kuyung Nagari Inderapura dan di Kenagarian Tapan terdiri dari 1. Desa Malepang, 2. Desa Bakir, 3. Desa Alang Rambah.
Berdasarkan surat penyerahan tersebut telah disepakati pada item kedua bahwa “Apabila dalam jangka 1 (satu) Tahun semenjak tanggal surat keputusan ini dibuat dan ditanda tangani, tanah tersebut tidak diolah/digarap dengan sendirinya kembali menjadi tanah ulayat masyarakat”.

    Berdasarkan perjanjian dan pernyataan yang telah disepakati antara KAN Inderapura dan KAN Tapan dengan pihak Bupati Pessel (Masdar Saisa). Berdasarkan pernyataan di lapangan semenjak tahun 1994 sampai dengan tahun 2006 yang lalu lahan yang diserahkan kepada PT. CCI hanya sebagian kecil saja yang diolah oleh pihak PT. CCI dan selebihnya tidak pernah diolah sama sekali.

    Maka dengan sendirinya tanah ulayat tersebut sudah langsung kembali menjadi tanah ulayat Nagari Inderapura dan pihak Bupati Pessel (Masdar Saisa) tidak berhak lagi atas tanah tersebut dan selanjutnya Lahan BI, CI, DI, D2 dari awal-awal tidak dimasukkan dalam areal Perkebunan PT. CCI karena lahan tersebut sudah dikelola oleh masyarakat dan lahan-lahan yang tidak diolah oleh PT. CCI semenjak tahun 2004 sudah banyak dikelola oleh masyarakat secara berkelompok.

    Akan tetapi pihak PT. CCI merampas kembali tanah ulayat masyarakat dan menebang semua hasil Kebun Masyarakat untuk penunjang kehidupan ekonomi masyarakat, padahal PT. CCI tidak berhak lagi atas tanah ulayat tersebut. Karena pihak PT. CCI sudah cukup lama meninggalkan dan menterlantarkan tanah tersebut lebih dari 12 (dua belas) tahun. PT. CCI kabur entah kemana. Sekarang masuk kembali merambah dan merusak tanah ulayat milik masyarakat setelah diselidiki oleh pihak KAN ternyata Perusahaan yang masuk tidak dikenal oleh KAN sama sekali.

    Untuk itu atas nama ninik mamak penghulu suku Nan 20 dan pucuk adat Kp Dalam sangat terkejut dan merasa dilangkahi oleh perusahaan tersebut,maka dengan tegas KAN menyatakan sangat tidak menerima kehadiran mereka diwilayah kami karena masuk tapa seizin dan sepengetahuan KAN Inderapura, berdasarkan Perjanjian dan kesepakatan maka masyarakat berharap kepada Bupati Pessel agar kiranya meninjau kembali surat penyerahan Tanah Ulayat  Nagari Inderapura dan Nagari Tapan tanggal 29-05-1993 yang lalu dan sekaligus membatalkan dan mempertanyakan perusahan yang tidak jelas masuk merusak tanah ulayat masyarakat tersebut.

    Masyarakat menyesalkan kinerja Kepolisian Sektor Basa Ampak Balai Tapan sangat kurang tanggap tentang kerusakan kebun yang di rambah dan dirusak oleh pihak PT.CCI, seperti laporan dari salah satu masyarakat Tapan Maison (67) suku Chaniago yang beralamat Kampung Bakir Kecamatan Basa Ampek Balai Tapan Kabupaten Pessel.

    Di mana kebun karetnya ditebang oleh pihak PT. CCI dengan uraian singkat kejadian hari Rabu tanggal 16 Juni 2010 pukul 08.00 wib, telah terjadi tindak pidana pengerusakan Tanaman Karet yang terletak diladang milik pelapor Maison tepatnya dikampung Rawang Bakir Kenagarian Malepang  Kecamatan BAB. Tapan yang dilakukan oleh terlapor terhadap pelapor.

    Kejadian berawal ketika Maison (Pelapor) sedang berada dilokasi ladang miliknya yang berada di Rawang Bubur, kemudian Maison mendengar suara shinswa (gergaji mesin-Red) berbunyi dari arah sebelah ladang Maison. Akhirnya Maison mendekati kearah sumber bunyi tersebut, terlihat Terlapor sedang menebangi tanaman karet miliknya. Maison berusaha menegur Terlapor, tetapi diindahkannya dan mengatakan, bahwa tanaman karet tersebut adalah milik PT. CCI.

    Atas kejadian ini, Maison merasa tidak senang dan dirugikan lalu melapor ke Polsek Basa Ampek Balai Tapan untuk pengusutan perkara lebih lanjut, dengan surat laporan Polisi No Pol: STPLP.143/B-1/VII/2010/Sek.BAB Tapan dan An. Kepala Kepolisian Sektor Basa Ampek Balai Tapan Kepala Jaga Shif ‘C’ Brigadir Pol Sepriandi NRP.79091112.

    Hingga berita ini diturunkan, pihak Kepolisian tidak segera menindak lanjutinya, yang jelas-jelas hal itu sudah merupakan tindak pidana. Mungkinkah keadilan hukum tidak berlaku bagi rakyat kecil, sementara hukum hanya bisa dipermainkan dengan uang seperti kepanjangan dari singkatan KUHP, yakni Kasih Uang Habis Perkara. Atau memang Kepolisian diduga sudah ada “jatah” untuk tidak bertindak kepada laporan dari masyarakat.
Kalau sudah seperti ini, berarti apa yang menjadi yel-yel Presiden H. Susilo Bambang Yudhoyono, yakni ‘LANJUTKAN’. Disalah-artikan oleh oknum pejabat dan aparat hukum di Kabupaten Pesisir Selatan, yaitu “lanjutkan” korupsinya. (M.Husni)



Kirim Komentar Anda..!!

 











© 2010 Surat Kabar Metro Indonesia OnLIne. All Rights Reserved 

This free website was made using Yola.

No HTML skills required. Build your website in minutes.

Go to www.yola.com and sign up today!

Make a free website with Yola