PT Desaria Plantation Mining Siap Perang dengan Warga Kaur 

SUKARDI, Direktur PT Desaria Plantation 

     KAUR — Rencana perkebunan kelapa sawit oleh Pt.Desaria Plantation Mining seluas 16.400 Ha terutama yang di Kecamatan Kinal Kabupaten Kaur Provinsi Bengkulu terancam gagal. Pasalnya dengan pola sistem yang akan diterapkan 80 persen kebun inti dan 20 persen kebun plasma tidak disetujui masyarakat, apalagi cara perusahaan yang tanpa kordinasi dan sosialisasi terlebih dahulu sudah menbabat hutan yang selama ini garapan masyarakat, bahkan sudah ditanam dengan kelapa sawit. 

     Masyarakat yang kaget tanahnya di dibuka dan telah ditanami dengan kelapa sawit oleh perusahaan, masing-masing yang memiliki lahan datang ke lokasi dan akan menggarap sendiri lahan tersebut. Seperti yang diungkapkan oleh salah satu warga padang guci (Kardilan), “Tanah saya ada 11 Ha yang selama ini saya garap dan ada Surat Keterangan Tanah (SKT), ada tanam tumbuh durian, pete dll.

     Sekarang sudah dibabat oleh perusahaan tanpa kordinasi. Atas nama Pt. Desaria sebelumnya belum pernah sekalipun pihak perusahaan sosialisasi dan menemui saya, tau-taunya tanah saya sudah dibuka dan ditanami sawit, begitu juga dengan warga pemilik tanah yang lain,” ujar Kardilan dari Desa Pagar Gunung Kecamatan Padang Guci Hulu ini kepada wartawan Metro Indonesia beberapa hari yang lalu.

     Dalam hal ini diduga kuat ada oknum atau pihak-pihak tertentu yang memanipulasi data dan memanfaatkan peluang dan kesempatan  untuk mendapatkan keuntungan demi untuk kepentingan pribadi atau kelompok.

     Karena bagi perusahaan sudah pasti tidak akan berani melakukan pekerjaan sampai ke penanaman apabila belum ada ketentuan ataupun syarat-syarat tertentu yang sudah dipenuhi. Bahkan banyak yang menyebutkan, PT Desaria Plantation Mining siap berperang dengan masyarakat Kaur, dan tidak takut akan dibakar. Sehingga ada kemungkinan perusahaan yang menyerobot tanah warga itu, sudah menyiapkan senjata khusus untuk “membunuh” warga yang coba-coba menganggu.

     Dengan demikian beberapa tokoh masyarakat saat ini sedang menyusun persiapan untuk melakukan rapat akbar membahas hal tersebut, di kecamatan Kinal akan dipimpin langsung oleh Sarjan Ali (Ketua LSM Guntur Semaku) sedangkan di Jakarta oleh Sidi hartono (Wartawan) yang juga putera asli Kinal untuk melakukan pengkajian dengan tokoh-tokoh yang lain di Jakarta tentang keberadaan Pt. Desaria Plantition Mining di Kabupaten Kaur.

     Konon informasi yang kami dapat dari salah satu nara sumber yang identitasnya minta dirahasiakan, bahwa seluruh kepala desa se-kecamatan Kinal, Lungkang Kule dan Muara Sahung beserta perangkat dan BPD masing-masing sudah diberi honor (Rp.500.000.- hingga 3.000.000.-/bulan) untuk membantu melancarkan rencana perkebunan Pt. Desaria ini. Namun yang sesungguhnya tetap saja tergantung dengan masyarakat pemilik lahan itu sendiri.

     Pokok permasalahan yang akan dibahas, pertama lokasi perkebunan yang terletak di hulu sungai Kinal, dikhawatirkan akan berdampak negatif terhadap lingkungan penduduk terutama masyarakat kecamatan Kinal dimana pada saat musim hujan, kemungkinan bnesar banjir bandang akan terjadi sehingga akan mengancam rusaknya areal persawahan, jalan dan jembatan bahkan akan mengancam salah satu desa penduduk yaitu desa Bunga melur. Dan pada saat musim panas maka akan terjadi kekeringan sehingga warga masyarakat yang mata airnya dari Sungai Kinal untuk mengairi sawahnya akan mengalami kesulitan bahkan tidak bisa lagi untuk menggarap sawah tersebut.

     Kedua pola sistem yang akan diterapkan oleh Pt.Desaria 80% untuk kebun inti (Kebun milik perusahaan) dan 20% plasma (kebun rakyat), sementara apabila lahan tersebut sudah dikasihkan ke perusahaan, kemana lagi anak serta cucu nanti mau berkebun atau bikin usaha untuk menghidupi kebutuhan keluarga. Walaupun ada jalan karena perusahaan masuk, tetapi kalau masyarakat tidak punya usaha disana buat apa jalan, kalau tidak punya kebun atau usaha.

     Ketiga Kaur memang butuh investor, tetapi investor yang ikhlas untuk meningkatkan tarap perekonomian rakyat dan investor yang ikhlas memberikan kontribusi yang seimbang kepada pemerintah daerah Kaur,. Kalau 80% initi dan hanya 20% plasma jelas masyarakat dirugikan dan tidak akan setuju,” ujar Sarjan Ali.

     Sementara Hermen Malik, dulu sebelum dilantik menjadi Bupati Kaur definitif mengatakan, “apabila pola sistem tidak 60:40 perusahaan itu kita usir”, namun sepertinya saat ini beliau menyetujui dengan pola sistem 80:20. Ya....Kita lihat saja nanti, kebijakan seperti apa yang akan diambil oleh beliau sebagai seorang pemimpin.(TIM)

Kirim Komentar Anda...!!!

Komentar Anda Akan Kami Muat di Metro Indonesia.













© 2010 Surat Kabar Metro Indonesia OnLIne. All Rights Reserved

 

This free website was made using Yola.

No HTML skills required. Build your website in minutes.

Go to www.yola.com and sign up today!

Make a free website with Yola